alkali-asidi

1.2. ALKALIMETRI

1.2.1. Tujuan Percobaan

 Membuat larutan standard NaOH 0,1 N.
 Standardisasi larutan NaOH dengan asam oksalat.
 Menentukan kemurnian asam dalam asam cuka yang diperdagangkan.

1.2.2. Tinjauan Pustaka

Alkalimetri adalah titrasi – titrasi dengan basa sebagai titran.
(Nursusilawati,dkk, 1981)
Istilah analisis titrimetri mengacu pada analisis kuantitatif yang dilakukan dengan menetapkan suatu volume suatu larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat, yang diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif dengan larutan dari zat yang akan ditetapkan. Larutan dengan kekuatan (konsentrasi) yang diketahui disebut larutan standard.
Larutan standard biasanya ditambahkan dari dalam buret. Proses penambahan larutan standard sampai reaksi tepat lengkap disebut titrasi.
(Bassett, 1994)
Standard primer yaitu zat yang tersedia dalam komposisi kimia yang jelas dan murni. Larutan tersebut hanya bereaksi pada kondisi titrasi dan tidak melakukan reaksi sampingan, tidak berubah maupun bereaksi ditempat terbuka.
(Khopkar, 1990)
Standard sekunder adalah suatu zat yang dapat digunakan untuk standardisasi dan yang kandungan zat aktifnya telah ditemukan dengan pembandingan terhadap suatu standard primer.
(Basset, 1994)
Asam cuka
Asam utama dalam cuka adalah asam asetat dan standard federal (USA) mengisyaratkan sekurangnya 4 gram asam asetat per 100 mL cuka. Kuantitas total asam dapat dengan mudah ditetapkan dengan titrasi basa standard.
(Underwood V, 1986)
Cuka biang adalah larutan yang pekat dari cuka bercampur dengan zat – zat lain. Untuk penentuan asam cuka tidak dapat dititrasi langsung, tetapi diencerkan dahulu sampai konsentrasi cuka cukup rendah. Titrasi dilakukan dengan NaOH standard.
(Nursusilawati, 1981)
Hidroksida dari Na, K dan Ba umumnya digunakan untuk pembuatan alkali standard, zat – zat ini adalah basa kuat yang dapat larut dalam air. NaOH adalah yang paling umum digunakan, karena murah harganya.
(Basset, 1994)
Dalam pembuatannya mungkin NaOH dapat dihasilkan cukup murni akan tetapi dalam penyimpanannya NaOH mengalami perubahan antara lain karena NaOH higroskopis sehingga menarik uap air dari udara. Selain itu NaOH juga mudah bereaksi dengan CO2 dalam udara. Kedua proses ini menyebabkan NaOH tidak murni lagi dan sukar untuk ditimbang.
(Harjadi, 1986)
Yang harus diperhatikan dalam titrasi :
 Cara menentukan titik akhir harus tepat
 Cara menghitung jumlah analat
 Cara menentukan konsentrasi larutan baku dengan teliti
Larutan yang dititrasi dalam asidi – alkalimetri mengalami perubahan pH. Indikator dalam asidi – alkalimetri dapat berubah warnanya apabila lingkungannya berubah pH nya.
Berat ekuivalen dalam asidi – alkalimetri ialah berat zat yang mereaksikan atau membutuhkan satu gram ion H+ atau OH- dengan perkataan lain BE = BM, dibagi jumlah ion H+ yang direaksikan atau diikat oleh sebuah molekul yang bersangkutan.
Dimana n ialah jumlah ion H+ yang direaksikan dengan sebuah molekul asam atau diikat oleh sebuah molekul bukan asam.
(Nursusilawati,dkk, 1981)
Cara Melakukan Titrasi Asam Basa :
1. Zat penitrasi (titran) yang merupakan larutan baku dimasukkan ke dalam buret yang telah ditera.
2. Zat yang dititrasi (titrat) ditempatkan pada wadah (gelas kimia atau erlenmeyer). Ditempatkan tepat dibawah buret berisi titran.
3. Tambahkan indikator yang sesuai pada titrat, misalnya, indikator fenolftalein.
4. Rangkai alat titrasi dengan baik. Buret harus berdiri tegak, wadah titrat tepat dibawah ujung buret, dan tempatkan sehelai kertas putih atau tissu putih di bawah wadah titrat.
5. Atur titran yang keluar dari buret (titran dikeluarkan sedikit demi sedikit) sampai larutan di dalam gelas kimia menunjukkan perubahan warna dan diperoleh titik akhir titrasi.

Gambar 1.2.2.1 Proses titrasi
(http://www.kimia.upi.edu.com)
Keterangan :
1. Corong
Alat yang berfungsi untuk memasukkan larutan peniter (larutan standard) kedalam buret.
2. Buret
Alat yang berfungsi sebagai pengukur volume larutan baku yang akan dititrasi.

3. Erlenmeyer
Alat yang berfungsi sebagai wadah titran (sampel).
4. Statif dan Klem
Berfungsi sebagai penyangga dari buret.
Rumus Umum Titrasi
Pada saat titik ekivalen maka mol – ekuivalen asam akan sama dengan mol -ekuivalen basa, maka hal ini dapat ditulis sebagai berikut:
Mol – ekuivalen asam = mol – ekuivalen basa
Mol – ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara normalitas dengan volume, maka rumus diatas dapat ditulis sebagai berikut :
(N x V) asam = (N x V) basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH- pada basa, sehingga rumus diatas menjadi :
(n x M x V)asam = (n x V x M)basa
Keterangan :
N : Normalitas
V : Volume
M : Molaritas
N : Jumlah ion H+ (pada asam atau OH- (pada basa)
(http:// http://www.belajarkimia.com)

Indikator Asam–Basa
Indikator Asam – Basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. Zat – zat indikator dapat berupa asam atau basa, larut, stabil dan menunjukkan perubahan warna yang kuat,yang biasanya adalah zat organik.
Indikator asam – basa secara garis besar diklasifikasikan dalam 3 golongan :
a) Indikator Ftalein dan Indikator Sulfoftalein
Indikator Ftalein dibuat dengan kondensasi anhidrida ftalein dengan fenol, yaitu fenolftalein. Pada pH 8,0 – 9,8 berubah warnanya menjadi merah. Anggota-anggota lainnya adalah o-cresolftalein, thimolftalein, α-naftolftalein. Indikator Sulfoftalein dibuat dari kondensasi anhidrida ftalein dan sulfonat, yang termasuk dalam kelas ini adalah thymol blue, m-cresolpurple, chlorofenolred, bromofenolred, bromofenolblue, bromocresolred, dan sebagainya.
b) Indikator Azo
Indikator azo, diperoleh dari reaksi amina romatik dengan garam disodium, misalnya metil yellow atau p-dimetil amino azo benzene. Perubahan warna terjadi pada larutan asam kuat. Metil orange tidak larut dalam air. Indikator lain yang masuk dalam kelas ini adalah metil yellow, metil red, dan tropaelino.
c) Indikator Trifenilmetana
Indikator trifenilmetana, malachitegreen, metil violet, kristal violet termasuk dalam golongan ini.
(Khopkar, 1990)
Indikator Asam Basa
Indikator Perubahan Warna Pelarut
Asam Basa
Thimol Biru Merah Kuning Air
Metil Kuning Merah Kuning Etanol 90%
Metil Jingga Merah Kuning – Jingga Air
Metil Merah Merah Kuning Air
Bromtimol Blue Kuning Biru Air
Fenolftalein Tak berwarna Merah – Ungu Etanol 70%
Thimolftalein Tak berwarna Biru Etanol 90%

(http://www.kimia.upi.edu.com)
Cara Menentukan Titik Ekuivalen
Ada dua cara dalam menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa :
a) Menggunakan pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah titik ekuivalen.
b) Menggunakan indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titran sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi dihentikan.
Pada umumnya cara yang sering digunakan adalah cara yang kedua. Hal ini disebabkan kemudahan pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis.
Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator yang perubahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indikator diusahakan sesedikit mungkin dan pada umumnya adalah dua hingga tiga tetes.
Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik ekuivalen, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indikator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.
Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator disebut sebagai titik akhir titrasi.
(http://www. belajarkimia.com)
Bahan baku primer untuk alkalimetri yang paling banyak digunakan, yaitu :
1. Kalium ftalat asam
C6H4(COOH)(COOK). Juga sering disingkat KHP (BM = 204,2). Memiliki banyak sifat yang menguntungkan, antara lain tidak higroskopis, murni dan mempunyai BE tinggi, BE = BM. Indikator fenolftalein atau biru timol.
2. Asam oksalat kristal
(COOH)2.2H2O (BM = 126). Sangat stabil dalam keadaan atmosfer biasa. Indikator yang digunakan fenolftalein atau biru timol.
3. Kalium byodat
KH(IO3)2 (BM = 389,9). Asam kuat sehingga biasa dititrasi dengan indikator yang mempunyai trayek pH antara 4 sampai 10. Banyak sifat lain yang juga menguntungkan penggunaan garam ini sebagai bahan baku primer, antara lain : tidak higroskopis, anhidrit, mempunyai BE tinggi dan dapat disimpan tanpa berubah. Dapat dikeringkan dan tetap stabil pada 110oC.
4. Asam sulfanat
HSO3.NH2 (BM = 97,09). Dapat dititrasi menggunakan indikator dengan trayek pH antara 4 sampai 10, khususnya biru bromtimol sangat sesuai. Kristal tak berwarna, tidak higroskopis, cukup stabil pada pengeringan sampai 105oC. Bahan padatnya bersifat stabil, tetapi akan terhidrolisa bila terkena air atau dalam larutan.
(Harjadi, 1986)

1.2.3. Alat dan Bahan

A. Alat-alat yang digunakan :
 batang pengaduk
 beakerglass
 botol aqudest
 buret lengkap
 corong kaca
 Erlenmeyer
 gelas arloji
 gelas ukur
 karet penghisap
 labu ukur
 neraca analitik
 pipet tetes
 pipet volume
 statif dan klem.
B. Bahan-bahan yang digunakan :
 aquadest (H2O)
 asamoksalat (H2C2O4.2H2O)
 natriumhidroksida (NaOH)
 phenolpthalein (C20H14O4)
 asam cuka (CH3COOH)
1.2.4. Prosedur Percobaan
A. Membuat larutan standard NaOH 0,1 N 500 mL.
 Menimbang 2 gram NaOH kristal.
 Melarutkan dengan aquadest dalam labu ukur 500 mL.
 Mengocok secara perlahan sampai larut, kemudian mengencerkan sampai tanda batas.
 Menyimpan larutan dalam botol tertutup.
B. Standardisasi NaOH dengan asamoksalat 0,1 N.
 Menimbang 0,63 gram asamoksalat dengan gelas arloji.
 Memasukkan dalam labu ukur 100 mL, kemudian melarutkan dengan aquadest sampai tanda batas.
 Mengambil 10 mL larutan asamoksalat dan menambahkan indikator phenolphtalein sebanyak 3 tetes.
 Menitrasi dengan larutan NaOH sampai dengan berubah menjadi warna pink.
 Mengulangi percobaan sampai 3 kali.
C. Penentuan kadar asam dalam asamcuka yang diperdagangkan
 Menimbang beakerglass kosong kemudian memasukkan 5 mL asamcuka contoh dan menimbang lagi, sehingga diperoleh berat asamcuka.
 Melarutkan dengan aquadest sampai volumenya 100 mL.
 Memipet 10 mL kemudian memasukkan dalam Erlenmeyer dan menambahkan 4 tetes indikator phenolphtalein.
 Menitrasi dengan larutan standard NaOH sampai warna merah jambu dan mencatat volume yang diperlukan.
 Mengulangi percobaan di atas sampai 3 kali.
1.2.5. Data Pengamatan

A. Standardisasi larutan NaOH dengan asamoksalat
Tabel 1.2.5.1. Data standardisasi larutan NaOH dengan asamoksalat
Keterangan I II III
Berat teliti bahan baku (gram) 0,63 0,63 0,63
Berat ekivalen bahan baku 63 63 63
Volume larutan baku (mL) 100 100 100
Volume larutan yang dititrasi (mL) 10 10 10
Volume larutan titran (mL) 9 8,3 8,5

B. Penentuan kadar asamasetat dalam cuka yang diperdagangkan
Tabel 1.2.5.2. Data penentuan kadar asam asetat
Keterangan I II III
Berat botol timbang kosong (gram) 47,25 47,25 47,25
Berat botol timbang + isi (gram) 52,3 52,3 52,3
Berat asam cuka contoh (gram) 5,05 5,05 5,05
Volume asamcuka encer (mL) 100 100 100
Volume asam cuka dititrasi (mL) 10 10 10
Volume larutan NaOH peniter (mL) 6 6,2 6,3

1.2.6. Persamaan Reaksi

A. Standardisasi larutan NaOH dengan asamoksalat
2NaOH + H2C2O4. 2H2O Na2C2O4 + 4H2O
(Harjadi, 1986)
B. Penentuan kadar asam dalam asam cuka yang diperdagangkan
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
(Harjadi, 1986)

1.2.7. Hasil Perhitungan

A. Membuat larutan standard NaOH 0,1 N sebanyak 500 mL
NNaOH =
0,1 =
0,1 =
WNaOH =
W NaOH = 2 gram
Jadi, untuk membuat larutan NaOH sebanyak 500 mL dengan menimbang 2 gram NaOH dan melarutkan dengan aquadest kedalam labu ukur 500 mL sampai tanda batas.

B. Membuat larutan H2C2O4 0,1 N sebanyak 100 mL.
NH2C2O4 =
0,1 =
= 0,63 gram
Jadi, untuk membuat larutan H2C2O4 0,1 N sebanyak 100 mL yaitu dengan menimbang 0,63 gram H2C2O4 dan melarutkan dengan aquadest dalam labu ukur 100 mL sampai tanda batas.
C. Standardisasi larutan NaOH dengan asamoksalat (H2C2O4.2H2O)
=
=
= 0,1 N
V NaOH rata-rata =
=
= 8,6 mL
(V × N) = (V × N) NaOH
10 × 0,1 = 8,6 × N NaOH
N NaOH = 0,1163 N
Jadi, normalitas larutan NaOH yang telah distandardidasi dengan asam oksalat adalah 0,1163 N.
D. Penentuan kadar asam asetat dalam asamcuka yang diperdagangkan.
V NaOH rata-rata =
=
= 6,1667 mL
% CH3COOH =
% CH3COOH =
=
=
= 8,5210%
Jadi, kadar asam dalam asam cuka yang diperdagangkan adalah 8,5210%.

1.2.8. Pembahasan

A. Standardisasi larutan NaOH dengan asam oksalat
Dalam percobaan standardisasi larutan NaOH dengan asam oksalat diperoleh normalitas NaOH adalah 0,1163 N, sedangkan normalitas NaOH secara teoritis adalah 0,1 N.
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh :
1. Kesalahan penimbangan asamoksalat, yang kurang tepat.
2. Kesalahan dalam penentuan titik akhir.
3. Kesalahan karbonat yaitu dimana NaOH bereaksi dengan udara (CO2) membentuk karbonat.
B. Menentukan kadar asam dalam asam cuka yang diperdagangkan
Dalam percobaan menentukan kadar asam cuka yang diperdagangkan diperoleh kadar asam sebesar 8,5210%.

1.2.9. Kesimpulan

1. Dari percobaan standardisasi larutan NaOH dengan asam oksalat diperoleh normalitas sebesar 0,1163 N.
2. Dari percobaan penentuan kadar asam dalam asam cuka yang diperdagangkan diperoleh kadar sebesar 8,5210%.

About these ads

~ oleh unyilsci pada Februari 11, 2011.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: